Skip to content

Categories:

Pengaruh tingkat kecerahan dan turbiditas terhadap kelimpahan foraminifera bentik di Perairan Tambelan, Laut Natuna

Abstrak

Berbagai penelitian kelautan dan pengambilan sampel dilakukan di perbatasan Indonesia-Malaysia dengan menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya VIII. Indonesia memiliki wilayah laut > 70%, namun masih dirasakan terbatasnya jumlah publikasi / informasi  mengenai foraminifera pada sedimen laut Kuarter. Pengamatan sedimen megaskopis maupun mikroskopis terutama dimaksudkan untuk mengetahui tektur dan komposisi sedimen serta kandungan mikroorganisma. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat kecerahan dan turbiditas terhadap kelimpahan dan diversitas foraminifera di muara hingga laut terbuka. Perairan Tambelan merupakan bagian dari wilayah Perairan Natuna, berbatasan dengan wilayah daratan Kepulauan Tambelan dan Pulau Kalimantan.

Stratigrafi regional:

Pulau-pulau di bagian selatan (Menggirang Kecil, Menggirang Besar, Benua, Lipi, Jelak, Tamban dan Ibul): Kgs – Kompleks Granit Sukadana: granit – granodiorit  (84 jtl), Qa – Terumbu Karang, aluvium, endapan sungai & pantai. Pulau-pulau di bagian utara (Uwi, Sendulang Kecil, Sedua Besar, Bungin dan Tambelan): Selain ketiga batuan tersebut, dijumpai Kvr – Lava dan breksi Batuan Gunungapi Raya (106 jtl) dan Kerabat Intrusif Sintang (Toms) yang keras (Supandjono. 1955). Bagian Timur hingga Tenggara Pulau Kalimantan: Batuan-batuan sedimen marin dan volkanik termetamorfkan berumur Trias & mungkin lebih tua (225 jtl & lebih tua);  Batupasir tufaan turbidit berumur Trias Atas? – Jura Bawah (227 – 180 jtl); Batugamping berumur Jura Atas & Batuan gampingan berumur Kapur (180-121 jtl); Batupasir berumur Kapur Atas – Tersier Bawah (121–1.8 jtl), Batuan-batuan beku dan Aluvium. Iklim tropis maritim dengan curah hujan tahunan rata-ratal : 2795 mm,  curah hujan bulanan rata-rata : 140 – 200 mm pada musim kering, maksimum 350 mm selama monsoon baratlaut/musim hujan (Oktober-Maret), Temperatur 25º  C – 32º  C (daerah rendah),  ± 18º C at ketinggian 1000 m.Sedimen permukaan dasar laut tersusun oleh lempung, lempung lanauan, lempung pasiran, lanau lempungan, lanau, pasir lempungan, pasir lanauan, pasir (sangat halus sampai sangat kasar), pasir kerakalan dan kerakal. (Isnaniawardhani & Natsir, 2012). Pengambilan sampel sedimen permukaan dasar laut berupa grab samples dan box corer samples. Pengambilan sampel permukaan laut  secara langsung atau menyelam. Preparasi dengan  metoda pencucian (wash residu) standar. Pengamatan dengan mikroskop binokuler. Dari sampel-sampel sedimen di wilayah laut Kepulauan Tambelan dapat diidentifikasi 119 spesies foraminifera bentik; dapat dikelompokkan dalam:

  • Subordo ROTALIINA : 60 spesies
  • Subordo MILIOLINA : 42 spesies
  • Subordo TEXTULARIINA : 12 spesies
  • Subordo SPIRILLININA: 3 spesies
  • Subordo LAGENINA  : 2 spesies

(Mengacu pada klasifikasi Loeblich & Tappan, 1988). Kumpulan ini didominasi oleh kelompok Rotaliina: Amphistegina lessonii, Amphistegina papillosa, Ammonia beccarii, Asterorotalia gaimardii, Asterorotalia trispinosa, Pseudorotalia schroeteriana dan Elphidium crispum; serta kelompok Milliolina: Lachlanella parkeri, Spiroloculina communis, dan Triloculina tricarinata. Pada sedimen laut terbuka, kelimpahan individu tertinggi dijumpai di barat laut wilayah perairan yang menghadap Laut Cina Selatan sebagai wilayah dengan tingkat kecerahan  tinggi.

Sebaliknya,  di daerah perairan yang menghadap Kalimantan dengan indeks turbiditas lebih tinggi,  kelimpahan foraminifera menurun hingga 50%. Selain pergerakan arus, batuan dasar akan mempengaruhi tingkat turbiditas sekitar wilayah perairan. Batuan Penyusun Utama Pulau-pulau Tambelan:  endapan aluvium sungai dan pantai, batuan intrusi andesit dan granit, lava andesit dan breksi à ketahanan terhadap erosi relatif lebih besar. Bagian timur hingga tenggara Pulau Kalimantan: tersusun oleh batuan metasedimen, batuan sedimen, dan batuan vulkanik, serta aluvium à ketahanan terhadap erosi relatif lebih rendah àsuplai sedimen dari darat besar. Diversitas tampak lebih dipengaruhi jenis sedimen. Diversitas tertinggi ditunjukkan pada daerah sekitar kompleks terumbu, sebaliknya diversitas terendah pada daerah pantai berpasir.

Dari sampel-sampel Perairan Tambelan, dapat diidentifikasi 119 spesies foraminifera bentik. Kumpulan foraminifera didominasi oleh subordo Rotaliina (Amphistegina lessonii d’Orbigny, Amphistegina papillosa Said, Ammonia beccarii (Linnaeus), Asterorotalia gaimardii (d’Orbigny), Asterorotalia trispinosa Thalmann, Pseudorotalia schroeteriana Carpenter, Parker & Jones dan Elphidium crispum (Linnaeus)); serta subordo Miliolina (Lachlanella parkeri (Brady), Spiroloculina communis Cushman & Todd, Triloculina tricarinata (d’Orbigny). Kelimpahan tertinggi dijumpai di daerah perairan yang menghadap Laut Cina Selatan. Kelimpahan foraminifera bentik dikontrol oleh tingkat kecerahan tinggi dan turbiditas rendah. Keanekaragaman spesies tertinggi dijumpai di daerah sekitar terumbu.

Posted in Penelitian.

Tagged with , , , .


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.