Archive for June 2021

Review Masjid Sunan Ampel

Sunan Ampel merupakan salah satu tokoh yang menyebarkan agama Islam di Surabaya. Ia memiliki pengaruh yang besar sehingga, terdapat daerah yang dinamakan sunan Ampel untuk mengabadikan pengaruhnya.

Salah satu pengaruh terbesarnya ialah merubah budaya Panca Ma (Ritual Hindu yang mengutamakan makan daging, ikan, khamar, seks, dan semedi) menjadi Moh Limo.

Ia juga mendirikan pesantren untuk memberikan pendidikan, serta membangun masjid dengan  gaya arsitektur campuran antara Islam dengan budaya setempat (Jawa Kuno, Hindu, dan Islam). Masjid ini dinamakan Masjid Sunan Ampel (atau Masjid Ampel).

Masjid Ampel – atau yang disebut masjid Sunan Ampel ini merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia hasil pembuatan dari Walisongo. Masjid ini memiliki luas bangunan sekitar 2000 m² dan memiliki daya tampung hingga 4000 jamaah.

Masjid Ampel sendiri ternyata ada dua di dalam lokasi. Masjid yang didirikan oleh Sunan Ampel berukuran kecil dengan warna genting coklat tua. Masjid ini bersebelahan dengan pasar Cinderamata.

Sedangkan Masjid Ampel yang baru, memiliki genting bewarna merah cerah, berukuran lebih besar dan langsung berhadapan dengan pasar cinderamata.

Dikutip dari jurnal ‘The urban heritage of Masjid Sunan Ampel Surabaya, toward the intelligent urbanism development’ oleh Budiarto (2015) terdapat 5 gapura untuk masuk ke area masjid.

Tiap gapura diatur berurutan, dari bagian inti yaitu bangunan masjid mengarah ke luar, sesuai urutan rukun Islam .

Kelima gerbang ini bermaknakan rukun Islam, dengan penjelasannya yaitu:

  1. Gapura Paneksen, gerbang pertama melambangkan ‘Syahadat’
  2. Gapura Madep, gerbang kedua melambangkan Salat
  3. Gapura Ngamal, gerbang ketiga yang melbangkan zakat (tersedia di daerah tersebut).
  4. Gapura Poso, gerbang keempat yang melambang puasa
  5. Gapura Munggah, gerbang kelima yang melambangkan Haji bagi yang mampu

Atap masjid ini sendiri mengikuti gaya bangunan Hindu-Jawa, tidak menggunakan kubah sebagai atapnya. Budaya penggunaan kubah sendiri baru populer di abad ke-20 dimana kubah mulai populer digunakan dikarenakan fungsinya sebagai atap terkuat dan memiliki kelebihan masing-masing, sesuai jenis kubah.

Di abad ke-20, Jual kubah masjid mulai berkembang di berbagai daerah. Pembuatan kubah kini sudah menjadi populer di kalangan Indonesia, seperti kubah yang berwarna silver.

Setiap harinya, di area masjid Ampel, selalu ramai di kunjungi masyarakat sekitar, maupun pengunjung dari wilayah lainnya.

Masjid Ampel berdiri dengan luas tanah sebesar 5000 m². Luas bangunannya sekitar 2.000 m² persegi.

Di sekeliling masjid, terdapat penjual dengan berbagai macam aneka dagangan. Insya Allah, semua jajanan Khas Jawa timurtersedia disini.

Apalagi bagi  yang ingin mencari makanan daerah, disini terdapat makanan favorit yang harus dicoba, yaitu Sate Karak, Pukis Ampel, dan Gulai Kacang Ijo.

Tak hanya beribadah, pengunjung masjid Sunan Ampel biasanya melakukan ziarah ke makam Sunan Ampel, bahkan meminum air sumur di kawasan tersebut (tentunya, air yang sudah disterilkan).

Awal Mula Munculnya Psikologi Klinis & Pengaplikasiannya di Berbagai Bidang

Di dalam buku Psikologi Klinis yang saya acukan sebagai referensi utama oleh Trull & Prinsten (2013), menjelaskan mengenai sejarah lengkap lahirnya psikologi klinis.

Psikologi klinis atau yang disebut juga “psikologi medis” (Zilboorg & Henry, 1941) dimulai pada reformasi abad ke-19, yang menghadirkan perawatan yang lebih baik untuk orang yang sakit mental dalam hal nilai kemanusiaanya.

Salah satu tokoh dalam gerakan ini adalah Philippe Pinel, seorang dokter Prancis yang merupakan kepala rumah sakit jiwa di Bicetre dan, kemudian, Salpetriere. Selain Pinel, kita juga mengenal William Tuke dari inggrisdan Eli Todd dari amerika yang berjuang dalam mengembangkan perawatan bagi orang yang sakit mental dalam hal kemanusiaan.

Dorothea Dix yang berkebangsaan Amerika berkampanye untuk fasilitas yang lebih baik untuk orang yang sakit mental.dalam upayanya ia berhasil membuat rumah sakit jiwa yang pertama di New Jersey 1848.

Pada abad ke-19, para filsuf dan penulis menyatakan martabat dan kesetaraan semua orang termasuk diantaranya orang yang sakit jiwa. Pemerintah mulai merespons dan memberikan kontribusi untuk gerakan yang selanjutnya mengacu pada kesehatan mental.

Sejarah Psikologi Klinis sendiri dibagi menjadi Diagnosis & Asesmen, Intervensi, dan Riset.

Sejarah Pengaplikasian Diagnosis & Asesmen

Esensi psikologi klinis sering menekankan pada perbedaan antara satu orang dengan yang lainnya.  Witmer membuka klinik psikologis pertama pada tahun 1896 dan memulai jurnal psikologis pertama, yang disebut The Psychological Clinic.Witmer mengidentifikasi dan merawat anak-anak yang mengalami kesulitan dalam bidang pendidikan yang dikarenakan oleh masalah psikologis.

Penekanan utama awal dalam penilaian dan perawatan psikologi klinis melibatkan fokus pada remaja yang berlanjut sampai akhir Perang Dunia Kedua.

Di masa peperangan, perkembangan asesmen pun mengarah ke pengukuran mental. Alfred Binet yakin bahwa kunci untuk mempelajari perbedaan individu adalah gagasan tentang norma dan penyimpangan dari norma-norma itu.Binet dan Theodore Simon tentang mengembangkan skala Binet-Simon 1908 sebagai cara untuk memastikan bahwa anak-anak dengan keterbatasan kognitif dapat dididik dengan baik (Thorndike, 1997).

Henry Goddard kemudian memperkenalkan tes Binet ke Amerika, dan Lewis Terman menghasilkan revisi Amerika pada tahun 1916.
Kemajuan juga sedang dibuat di bidang pengujian kepribadian. Carl Jung mulai menggunakan metode asosiasi kata sekitar tahun 1905 untuk mencoba mengungkap materi yang tidak disadari pada pasien. Pada tahun 1910, Tes Asosiasi Gratis Kent Rosanoff
diterbitkan.
Setelah Perang Dunia I, sebuah komite yang terdiri dari lima anggota dari America Psychological Association (APA) diangkat oleh Departemen Medis Angkatan Darat yang diketuai oleh Robert Yerkes. Komite tersebut ditugasi tugas menciptakan sistem untuk mengklasifikasikan pria berdasarkan tingkat kemampuan mereka. mereka merancang tes Alpha Army pada tahun 1917 yang merupakan test skala verbal dan tes army betha untuk skala nonverbal.

Hal ini digunakan untuk mengelompokkan tentara, apakah ia cocok menjadi pilot, angkatan darat, angkatan udara, angkatan laut, atau bahkan komandan prajurit sekalipun.

Selanjutnya ada di post berikutnya

DAFTAR PUSTAKA

Trull, T. J., & Prinsten, M. J. (2013). Clinical Psychology. Belmont: Wadsworth.

Perkembangan Psikologi Kognitif: Revolusi Pendekatan Psikologi di Tahun 1960-an

Kognisi menurut KBBI adalah kegiatan atau proses memperoleh pengetahuan (termasuk kesadaran, perasaan, dan sebagainya) atau usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri. Kognitif menurut KBBI artinya berhubungan atau melibatkan kognisi serta berdasar kepada pengetahuan faktual yang empiris.

Psikologi pada mulanya dianggap sebagai “the science of mental life”, seperti yang dikemukakan oleh William James, setelah itu, pada pertengahan abad ke-20 psikologi berubah menjadi “the science of behavior.”

Konsep-konsep mental seperti pikiran, memori, tujuan, dan emosi—dianggap sebagai non-ilmiah, psikologi selanjutnya diasosiasikan dengan yang ilmiah yakni, stimuli (rangsangan) dan respon.

Kemudian bermunculan ide-ide mutakhir mengenai komputasi, timbal balik, informasi, dan komunikasi. Karena itu psikolog-psikolog menyadari besarnya potensi untuk ilmu pengetahuan mengenai pikiran, maka para psikolog memulai “cognitive revolution.” 

Cognitive Revolution adalah sebuah periode yang berlangsung pada tahun 1950-an sampai dengan 1960-an dimana pendekatan psikologi yang sebelumnya digunakan, yaitu Behaviorisme dan Psikoanalisis, digantikan oleh Psikologi Kognitif.

Psikologi Kognitif adalah sebuah studi ilmiah tentang fungsi pikiran (mind) dan mental, dalam hal-hal  seperti; pembelajaran, ingatan, perhatian, persepsi, penalaran, kemampuan berbahasa, pengembangan konseptual, dan pengambilan keputusan.

Sebagai contoh, pengetahuan kita mengenai apa yang bayi dapat dan tidak dapat mengerti adalah bagian dari studi di bidang psikologi kognitif. Seorang bayi bisa melihat di cermin pada usia 18 bulan, untuk tidak mengasosiasikan dengan bayangan dirinya, kemudian di usia 21 bulan, seorang bayi dapat mengenali bayangan dirinya sendiri. 

Publikasi-publikasi penting yang memulai cognitive revolution adalah:

    1. “The Magical Number Seven, Plus or Minus Two”, artikel yang ditulis oleh George A. Miller untuk Psychological Review pada tahun 1956
  • A Study of Thinking, buku yang ditulis oleh Jerome Bruner pada tahun 1956
    1. Perception and Communication, buku yang ditulis oleh Donald Broadbendt yang diterbitkan pada tahun 1958
    2. “Review of Verbal Behavior, by B.F. Skinner” oleh Noam Chomsky yang dipublikasikan pada tahun 1959
    3. “Elements of a Theory of Human Problem Solving” oleh Newell, Shaw, dan Simon 
  • Cognitive Psychology, buku yang ditulis oleh Ulric Neisser dan diterbitkan  pada tahun 1967

Cognitive Revolution berkembang melampaui psikologi kognitif. Revolusi Kognitif mencakup bidang pendidikan, psikologi eksperimental (mempelajari pikiran manusia di laboratorium atau dalam eksperimen), liguistik atau studi bahasa, ilmu komputer, artificial intelligence dan neuroscience. Studi modern mengenai kognisi memunculkan kemungkinan bahwa otak manusia dapat dimengerti dan dianalisis seperti sistem komputasi yang kompleks.

Diawal berkembangnya cognitive revolution, George Miller mengemukakan bahwa manusia dapat memberi label, mengukur, atau mengingat tujuh item sekaligus, termasuk nada, angka, kata atau frasa. Itu berarti otak manusia harus dibatasi oleh tujuh (ditambah atau dikurang dua) unit, yang Miller sebut sebagai “chunks” atau potongan.

Ahli Bahasa, Noam Chomsky, mengemukakan bahwa manusia dapat memproduksi dan mengerti jumlah kalimat novel yang tak terbatas.

Manusia cenderung menginternalisasi grammar, atau peraturan-peraturan, daripada menghafalkan respons-respons. Jerome Brunner menganalisis manusia sebagai pemecah masalah yang konstruktif, bukan sebagai media pasif saat manusia menguasai sebuah konsep baru.

Pada tahun 1960, Bruner dan Miller menemukan Harvard Center for Cognitive Studies, yang menginstitusikan revolusi kognitif dan meluncurkan bidang ilmu kognitif. 

Lima gagasan utama dari revolusi kognitif yang dikemukakan oleh seorang ahli kognitif dari Harvard University, Steve Pinker, dalam bukunya The Blank State (2002) adalah: 

  1. umpan balik”
  2. “Pikiran manusia tidak bisa menjadi blank slate (batu tulis kosong), karena blank slate tidak melakukan apapun”
  3. “Beragam perilaku yang tak terbatas dapat dihasilkan dari program kombinatorial yang terbatas dalam pikiran”
  4. “Mekanisme mental yang universal dapat mendasari variasi yang dangkal antar budaya.”
  5. “Pikiran manusia adalah sistem kompleks yang terbentuk dari banyak bagian yang berinteraksi”

Bagaimana Pendekatan Psikologi Kognitif Terbentuk

Pada awal abad ke-20, lahirlah teori Behaviorisme yang mengalami perubahan konsep radikal. Aliran behaviorisme mengatakan bahwa otak manusia adalah otak pasif yang memandang bahwa otak manusia dan binatang semata-mata hanya psikologi stimulus-respon (Solso, 2007).

Beberapa tahun kemudian, pada tahun 1932 terjadi sebelum kebangkitan Revolusi kognitif seorang behavioris dari Universitas California yang bernama Edward C. Tolman. Tolman menerbitkan sebuah buku yang menjelaskan tentang eksprimen terhadap tikus yang ditempatkan dalam labirin dengan mempelajari stimulus-respon darinya. Saat itu, psikologi kognitif  terbentuk dari pemikiran behavior.

Akan tetapi, Perang Dunia II membawa minat pada studi tentang kognisi. Pada masa itu, dibutuhkan pemahaman tentang human factor.

Studi dibutuhkan untuk menjawab bagaimana prajurit dapat memusatkan perhatian dengan lebih baik serta akurat dalam penglihatan dan pendengaran.

Hal ini kemudian mendasari lahirnya alat tes psikologi untuk tentara yang berhubungan dengan inteligensi/bakat 

Sedangkan awal lahirnya psikologi kognitif modern yakni sekitar tanggal 1 September 1956 pada simposium di Massachusetts Institute of Technology Saat itu, banyak informasi yang dipublikasikan melalui tulisan artikel tentang atensi (attension), memory, bahasa (languange) dan lain sebagainya. Pada saat itu psikologi kognitif mendapat apresiasi dan antusiasme yang tinggi sehingga perkembangan psikologi kognitif sangat cepat.

Selanjutnya, beberapa tahun kemudian dengan melewati berbagai eksprimen dari berbagai tokoh maka psikologi kogntif terbentuk pada tahun 1960-an. Adapun tokoh dari psikologi kognitif adalah Edward C. Tolman (1886-1959) dengan mengembangkan konsep peta kognitif, beliau juga merupakan behavioris dari Universitas California di Berkeley dengan menerbitkan buku yang pertamanya berjudul “Purposive Behavior In Animals and Men” Buku yang menjadi bukti resmi diakuinya psikologi kognitif itu terdiri dari enam bab; yaitu dua bab tentang persepsi dan perhatian, dan empat bab tentang bahasa,

Pendeketan Kepribadian Menurut Psikologi Kognitif

  • Teori George A. Kelly (Personal Construct Theory)

Teori konstruksi pribadi George A. Kelly paling sering disebut sebagai teori kepribadian kognitif modern pertama. Kelly mengusulkan dan menjelaskan metafora “orang sebagai ilmuwan.” Menggambar teori-teori Heider dan peneliti atribusi, Kelly mengusulkan agar orang menggunakan pengamatan untuk mengembangkan kepercayaan tentang diri mereka dan dunia mereka.

Pengamatan ini disusun menjadi konstruksi pribadi, yang dijelaskan oleh Kelly dalam istilah yang sangat mirip dengan konsep schemata kognitif saat ini.

Skema kognitif adalah organisasi yang berarti dari potongan pengetahuan terkait. Kelly mengusulkan agar orang membuat prediksi dan interpretasi mengenai pengalaman mereka berdasarkan konstruksi pribadi mereka (atau schemata), dan mereka berusaha untuk berperilaku dengan cara yang sesuai dengan konstruksi pribadi mereka.

  • Teori Albert Bandura (Social Cognitive Theory)

Bandura, salah satu teoretikus kontemporer terkemuka di bidang ini, telah mengambil pendekatan ini lebih jauh lagi, mengembangkan apa yang dia sebut teori sosial-kognitif (1986, 2006).

Teorinya menekankan reciprocal determinism, di mana faktor penentu eksternal perilaku (seperti penghargaan dan hukuman) dan faktor penentu internal (seperti kepercayaan, pemikiran, dan harapan) adalah bagian dari sistem pengaruh interaksi yang mempengaruhi perilaku dan bagian lain dari sistem. (Bandura, 1986).

Dengan kata lain reciprocal determinism adalah gagasan bahwa perilaku dikendalikan atau ditentukan oleh individu melalui proses kognitif, dan oleh lingkungan, melalui peristiwa stimulus sosial eksternal. 

Dalam model Bandura, tidak hanya lingkungan mempengaruhi perilaku tapi juga perilaku dapat mempengaruhi lingkungan.

Sebenarnya, hubungan antara lingkungan dan perilaku adalah hal yang timbal balik: Lingkungan mempengaruhi perilaku kita, yang kemudian mempengaruhi jenis lingkungan tempat kita berada, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi perilaku kita, dan seterusnya.
Albert Bandura memperluas teori kepribadian kognitif dengan menggambarkan proses pembelajaran observasional atau perwakilan dan peran struktur kepercayaan seperti self-efficacy (adalah keyakinan akan kemampuan seseorang untuk mencapai hasil yang diharapkan).

Bandura sepakat bahwa orang berkembang dan berubah sebagai konsekuensi dari penghargaan langsung dan hukuman yang mereka terima dari lingkungan. Imbalan dan hukuman ini terjadi sebagai konsekuensi tindakan mereka (dasar pengkondisian operan). Namun, kita juga belajar dengan mengamati orang lain (model) dan mencatat konsekuensi akibat perilaku mereka.

Keyakinan self-efficacy bergantung pada sejumlah faktor, termasuk pengalaman langsung sebelumnya, pembelajaran observasional, persuasi sosial, dan penilaian diri dan interpretasi keadaan emosional saat ini dan masa lalu. 

 

Daftar Pustaka

Susan N.H., Barbara F., Geoffrey L., & Willem W. (2009) Atkinson & Hilgard’s Introduction to Psychology.

Lundin, Robert W. (1991)  Theories and Systems of Psychology 4th ed. Canada, Heath and Company

Kendra, C. (June 25, 2017). What Is Reciprocal Determinism?. Retrieved from https://www.verywell.com/what-is-reciprocal-determinism-2795907

Cognitive Personality Theories. (n.d). Retrieved from https://psychology.iresearchnet.com/counseling-psychology/personality-theories/cognitivepersonality-theories/

Charlotte. (October 2016).  What are the limitations of the cognitive approach to psychology?   Retrieved from https://www.mytutor.co.uk/answers/7026/ALevel/Psychology/What+are+the+limitations+of+the +cognitive+approach+to+psychology%253F

Sejarah Walisongo : Awal Mula Perkembangan Pesat Islam di Tanah Jawa

Sejarah Walisongo

Gambar Walisongo (Sumber :Arrahim.id)

Sejarah Walisongo – Walisongo merupakan tokoh Islam di Nusantara yang menyebarkan agama pada abad ke-15. Tokoh ini merupakan salah satu tokoh yang dihormati, serta memiliki pengaruh terbesar dalam penyebaran Islam sampai saat ini.

Jawa yang dulunya berada di bawah kerajaan Majapahit, kebanyakan, warganya menganut Hindu sebagai agamanya. Banyak sekali budaya hindu yang masih terjaga di Indonesia sampai saat ini.

Walisongo yang merupakan utusan Sultan Mehmed I, memberikan dakwah kepada mereka dengan berbagai upaya agar Islam pun dapat dikenalkan oleh warga Jawa, seperti melalui perdagangan, pendidikan, maupun akulturasi budaya.

Read on »